Kamis, 07 April 2011

PENJAGA SEKOLAH

SUKA DUKA PENJAGA SEKOLAH
Oleh ; Shaff Ra Alisyahbana


Sehubungan dengan status penulis pada akhir tahun 60an sebagai Murid Tunggal Putra pada Madrasah Raudhatul Ilmiyah Natal ( cikal bakal MTs Muhammadiyah 20 Natal), dimana Kepala Madrasahnya pada waktu itu adalah sebagai Kepala Kantor Urusan Agama ( KUA ) Kecamatan Natal, yaitu alm.Bapak Zahrunsyah Z.Abidin. Pada awal tahun 1970 an, menja di tenaga honorer pada Kantor Urusan Agama Kec. Natal dan pertengahan tahun menjadi tenaga honorer pada Kantor Departemen Pendidikan & Kebudayaan Kec.Natal yang pada masa itu Kepalanya adalah Bapak Hasan Basri Batubara. Kemudian membuka Kantin Kantor Camat Natal dan Honorer pada Penghubung Sosial Natal.
Selanjutnya, sebanyak 13 orang putra putri Natal mengikuti pelamaran pada Kandep dikbud Kab. Tapsel yang sebelumnya juga melamar di Kanwil Depag Sumut bersama sdr. Syariful Mahya (sekarang Drs.H.Syariful Mahya Bandar, MA – Kanwil Kemenag Prov.Sumut ). Alhamdulillah , dari 13 orang pelamar, cuma saya yang berhasil lulus dalam pelamaran Capeg tsb.
Karena telah putus asa disebabkan tidak sampainya informasi tentang pengumuman ini dan dibarengi dengan musim panen cengkeh, saya menjadi penjaga kebun cengkeh di Pulau Tamang milik mertua disana. Tepat jam 24.00 malam, tanpa di sangka datang saudaraku keduanya, Darwis Batubara dan Basyiran Batubara membawa kabar gembira dan menjemputku bahwa segera berangkat ke Medan untuk menyelesaikan masalah pelamaran dimana aku dinyatakan menang. Jam 01.30 wib, kami bertiga bersaudara berangkat dari Pulau Tamang dan jam 04.00 wib kami pun sampai dan aku merangkak digelapan malam karena listrik padam , untuk mendapatkan rumah kosong yang ditinggalkan karena pindah sementara ke Pulau Tamang. Esok harinya aku berangkat ke Medan untuk menyelesaikan masalah namaku yang tertulis adalah Sri Pokmi Batubara, dan aku berhubungan langsung dengan Bapak Karmani Soetjipto untuk menyatakan nama sebenarnya ( Sry Fahmy Batubara ). Terhitung 1 Januari 1983 , saya sah sebagai Capeg dan ditempatkan di SMP Negeri Natal. Sejak 1 April 1983, aku mulai bekerja dan menjadi Keluarga Besar SMPN Natal, dimana disitupun dipermasalahkan bahwa nama yang ada di SMPN Natal adalah Syahriyal dengan nomor induk 179. Alm.Bapak Darwin Piliang dan Ibu Sari Agut Batubara terheran kenapa nama saya berobah menjadi Sry Fahmy Batubara ?. Dengan secara terpaksa aku jelaskan bahwa nama kecilku adalah Syahriyal dan di singkat dengan Sry dengan tambahan Fahmy dan marga Batubara. Dikarenakan pada tahun 1970 an terjadi banjir besar di Kampung Sawah, Ijazah SD ku hilang dan hanyut dibawa banjir, terpaksalah aku meminta Surat Pengganti Ijazah dari sekolah yang menamatkanku yaitu SD Negeri 2 Natal. Disebabkan pada masa itu topnya nama menteri luar negeri Mesir, Ismail Fahmy dan maraknya marga-marga di Natal,akhirnya nama Sry Fahmy Batubara yang tercantum dalam Ijazah MTs AIN Padangsidimpuan yang harus disamakan dengan Ijazah SD ku.

Ketika aku mulai bekerja di SMPN Natal, tenaga pengajar sudah banyak disitu dan demikian juga Pegawai Tata Usahanya seperti sdr.Tagor Mulia Harahap,Rajani Sigaling ging,Mulia Nasution,Hafsyah Lubis dan Kepala TU Bapak Ibrahim Batubara,alm., sedangkan guru-gurunya antara lain Bapak Darwin Piliang, Rakito Sumardi, Fendi Siregar, Tukman Rajagukguk, Goodmen Siregar, Rosdewani Nasution, Aminah Lubis , Zainab, Sari Agut Batubara, Ramli Lubis , Helmius Tanjung, Else RT Situmorang dan Alman Sinaga dengan Kepala Sekolah alm. Bapak Djailani Lubis.

Pada tahun 1998, situasi SMP Negeri Natal berobah dari pasar jualan kue menjadi Kantin Sekolah dengan peneroka Bapak Drs.Zulham Syahputra yang menetapkan saya sebagai Penjaga Sekolah, disamping menjabat sebagai Bendaharawan menggantikan sdr. Buyung Ito disebabkan menjadi Kepala Tata Usaha.

Jabatan rangkapku mulai mendapat tantangan sebagai suka dukaku menjadi Penjaga Sekolah. Dulunya orang-orang berjualan ramai di dalam lingkungan sekolah, dimana seko lahpun tidak mempunyai pagar sekolah sehingga siswa banyak yang sampai ke tepi pantai bermain-main dan juga ke bukit TVRI yang baru saja dibangun dan diantaranya ada yang mencuri kelapa dan merokok disana.

Para orang-orang yang berjualan pindah lokasi disekitar luar lokasi sekolah dan mulailah berdatangan tantangan sehingga ribut dan buah bibir masyarakat jiran tetangga bermacam ragam kedengarannya. Saya sebagai Penjaga Sekolah juga mendapat berbagai tudingan yang kurang menyenangkan dan pernah terjadi pada suatu hari dimana makanan yang disuguhkan kepada anak-anak di lihat mereka adalah ulat-ulat yang bergelimpangan di atas piring di akibatkan dirasuki ilmu sihir Chinduo Mato. Dengan secara terpaksa aku melaksa nakan perintah Kepala Sekolah yang harus menempati Kantin Sekolah dan bertempat tinggal disana.
Tepat pada tanggal 19 Agustus 1999, kami mulai menempati Kantin darurat dan oleh karena itu, kantin Sekolah dinamakan CHINTO SEMBAGOES yang artinya Chinduo Mato 19 Agustus 1999.

Secara merangkak, keadaan siswa mulai disiplin karena Kepala Sekolah, Kepala Tata Usaha dan Bendahara turun langsung ke Huta Raja (Ranto Baek) untuk mendapatkan papan sibiran sebagai pagar sekolah dan ketika masuknya pergantian Kepala Sekolah dengan Bapak Drs.Oloan Nasution, barulah pagar tsb.diganti dengan kayu nibung sampai sekarang yang telah banyak ompong dan lapuk.

Berdasarkan pkisah pengalaman tsb.diatas, ada beberapa hal yang penting untuk diper tanyakan antara lain :

1.Dalam pelamaran Capeg PNS itu tanpa memberikan apa-apa kecuali harus menge luarkan dana dalam pengurusannya. Kenapa sekarang ada tawar menawar tentang besarnya nilai pemberian ?
2.Sejak pensiunnya saya pada bulan Mei 2007, SMPN 1 Natal hanya mempunyai 3 orang tenaga honorer atau Pegawai Honor Komite ( PHK ) termasuk saya sendiri yang masih dipekerjakan. Bisakah sekolah ini mencapai Status Satndart Nasional (SSN), sedangkan pegawai tata usahanya tidak ada satu orangpun berstatus capeg atau PNS. Kepana pada zaman masih masuk Kabupaten Tapanuli Selatan, guru-guru dan tata usahanya yang PNS banyak, padahal wilayahnya terdiri dari beberapa kabu paten yang telah dimekarkan sekarang ?
3.Kenapa tidak adanya penuangan anggaran untuk pengadaan pembangunan pagar sekolah, karena hal itu sangat dibutuhkan oleh setiap sekolah. Sejak berdirinya SMP ini tahun 1965, baru 62 meter yang berpagar permanent dimasa kepemimpinan Ibu Sari Agut Batubara ditambah 10 meter dimasa kepemimpinan sekarang (Irwan,SPd ). Bisakah sekolah yang calon SSN ini berpagar kayu dari tahun ke tahun ?
4.Kenapa tidak adanya pengadaan pembangunan Kantin Sekolah, Ruang Perpustakaan, Ruang UKS dan Ketrampilan dan lain-lainnya ?
5.Sejak pindahnya Bapak Helmius Tanjung ke Solok Sumatera Barat, tidak ada lagi guru olahraga dan kesenian yang berstatus PNS dan bisakah tenaga honorer diharap kan dari tahun ke tahun ? Demikian juga,sejak pindahnya Bapak Fendi Siregar, tidak ada lagi guru BP yang akan memberi penyuluhan kepada siswa yang sekarang semakin bandel yang memerlukan penyuluhan dan pembinaan.
6.Sikon SMPN 1 Natal sekarang ini mulai semrawut seperti zamanya kepemimpinan Ibu Sariagut Batubara, dimana siswa siswi bebas berkeliaran diluar pagar sekolah yang salah satu penyebabnya adalah dibuatnya pintu keluar masuk khusus dimuka tempat jualan orang luar tanpa dikunci didasari dengan tidak adanya larangan keluar pagar. Sebenarnya yang melarang keluar pagar itu bukan pagar, tetapi aturan penegakan disiplin yang digerakkan bersama oleh seluruh komponen SMP Negeri 1 Natal. Tapi apa boleh buat, semua Dewan Guru hanya melaksanakan kewajiban tugas saja disebabkan adanya ketidak cocokan antara kepala unit dengan bawahannya.

Demikian sekedar tamsilan masa dulu dengan masa kini semoga dapat dipertimbangkan untuk menata masa depan yang lebih baik, semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar